I never say that you are beautiful, because you are beautiful. I love you

Selasa, 27 Oktober 2009

bahu-bahu tersandar

sampai saat ini hari-hari masih terasa lumpuh
setiap langkah selalu membangkitkan gejolak
mata ini walau rabun rasanya harus dibutakan
telinga walau sudah ditutup masih harus ditulikan
hidung yang sinus ini masih ingat harum tubuhmu

aku tidak mau membatu
rasa ini aku coba menyangkalnya
aku melihat dunia dan mengarunginya
melawan ombak mencoba merelakan kau terbang
tapi membatu, terkutuk menantimu

ah saya memang laki-laki, saya mampu melakukan apa yang umumnya seorang laki-laki lakukan. saya bisa hidup bertahan di hutan rimba. tapi dalam hal rasa ini, saya memerlukan bantuan. saya masih bisa menangis dan terpuruk karena rasa ini.

pada tulisan kali ini saya ingin berterima kasih kepada bahu-bahu yang selama ini telah saya pinjam. bahu-bahu ini telah membantu saya masih bisa bernafas sampai saat ini, walaupun belum bisa menghilangkan rasa ini.

Yopi seorang dokter yang tadinya praktek di kampung, sekarang menjadi tukang rias wajah di salon kecantikan. sesekali Yopi masih menangani pasien umum yang menghubunginya secara pribadi, termasuk saya. saya mengenal dokter Yopi karena dia kakak teman kelompok belajar saya dulu. Yopi memutuskan untuk berpraktek di kampung saya, ketika saya pulang kampung, saya sering mampir ketempatnya.

saya sempat kaget saat melihat sebuah buku tebal tentang agama -- yang sama dengan yang ada di KTP saya ada -- di kamar Yopi. saat itu saya baru mengetahui kalau Yopi telah memutuskan untuk menganut agama baru. hal ini sangat jarang terjadi di negara saya ini. saya salut dengan keluarga Yopi yang membebaskan generasinya memilih keyakinan masing-masing. saya mungkin harus memberontak untuk bisa merubah agama, apalagi keluarga saya tidak seperti keluarga Yopi

setiap saya pulang kampung, saya sempatkan mampir atau sekedar bertemu dengan Yopi
selama ini dia menjadi tempat saya bercerita tentang hutan rimba yang menelan saya.
Yopi juga terkadang menceritakan petualangannya di pantai biru. ya Yopi memang teman saya berbagi ketika sedang pulang kampung. terima kasih Yopi.

Dilla kaget ketika saya tiba-tiba datang ke rumahnya. seorang yang yang suka tertawa cengengesan, Dilla kini lebih banyak dirumah merawat ibunya yang lumpuh.
dulu Dilla pernah menikmati hidup berfoya, kini dia harus menerima hidup yang cukup, terkadang kurang ketika waktunya membeli obat untuk ibunya. disaat-saat seperti ini, ketika rasa ini terasa menusuk, Dilla bisa menjadi teman berbagi dan selalu penuh tawa. saya sangat salut pada Dilla, dengan kondisi ekonomi yang kurang, dia masih bisa tertawa dan tersenyum merawat ibunya. saat ini saya sedang mencoba mencuri ilmunya, agar saya bisa tersenyum dan tertawa merelakan rasa ini. terima kasih Dilla

Rada memang bukan biduanita terkenal, tapi setidaknya dia sudah mencoba membuat video demo bersama kelompok musiknya. dulu saya sering ikut Rada latihan musik bersama kelompok musiknya yang juga teman-teman saya. saya memang suka musik, tapi mungkin selera saya berbeda dengan Rada. dulu Rada sering menyanyikan lagi dangdut, tapi sekarang dia mencoba ke jalur pop. Rada sering memberikan inspirasi kepada saya untuk mehadapi rasa ini. dan saya tidak menyangka Rada juga mempunyai kemelut yang hampir sama, namun tidak separah yang saya hadapi. dengan kesamaan itu, saya berani menceritakan rasa ini kepada Rada, dan dia merespon dengan beberapa inspirasi dan pengalaman. sampai sekarang, Rada selalu memberikan saya inspirasi setiap ada kesempatan. terima kasih Rada

saya sebenarnya jarang berkomunikasi dengan Ibu angkat saya. tapi suatu saat ketika rasa ini menyerang saya, dan saya tidak menemukan teman untuk berbagi, saya akhirnya menceritakan rasa ini padanya. Ibu angkat saya yang sampai saat ini memutuskan untuk hidup sendiri, beliau mengakui tidak pernah mengalami rasa seperti ini. beliau hanya memotivasi saya agar merelakan rasa itu. ya paling tidak beliau bersedia untuk berbagi, dan menyelamatkan saya hari itu. terima kasih Ibu

Windy orang yang membuat saya kaget saat pertama kali kenalan. dia bisa tahu dimana dan dengan siapa saya tinggal. saya sendiri tidak tahu siapa Windy ini, karena baru hari itu berkenalan. setelah beberapa kali saya tanya darimana dia tahu hal pribadi saya itu, akhirnya suatu cerita panjang terungkap.

windy adalah teman dekat paman saya dan Windy pernah diceritakan tentang keponakannya yang tinggal satu kota dengan Windy. ah saya tidak pernah menyangka akan bertemu teman seperti ini. setelah perkenalan itu, kami menjadi semakin akrab, dan saling berbagi cerita. saya banyak berbagi mengenai perjuangan saya untuk menghadapi rasa ini dan windy pun berbagi tentang dilemanya. Windy yang dulu hanya dimulai dengan perkenalan biasa, tak disangka jadi sedekat ini. terima kasih windy.

Aji seakan tahu yang saya butuhkan, dia mengajak saya berpetualang, bermeditasi mencari ketenangan dan mencoba merelakan rasa ini. dari menaiki gunung sampai menuruni lembah saya jalani, berbagai liku pemandangan saya nikmati terkadang bisa menyembunyikan rasa ini sesaat. bagaimanapun Aji telah membantu saya mencari cara merelakan rasa ini. terima kasih Ji.

Via dan Adi, dua sahabat yang mesra, kalau saja saya seorang penghulu, pasti saya kawinkan dua insan ini. Saya sering berbagi rasa ini dengan mereka melalui tulisan-tulisan singkat. komentar-komentar mereka seringkali membuat saya tertawa dan tersenyum. kami seringkali berdebat tak tentu arah dan tak berujung kadang menggantung, semoga tidak ada yang protes tentang itu. Via dan Adi kalian yang selalu menyemangati perjuangan dalam menghadapi rasa ini, terima kasih, nanti kita lanjutkan lagi pertarungan.

Michael sahabat yang dipisahkan oleh berlin, telah berjasa membantu saya menyentuh dunia. berkat Michael, saya merasa lebih nyaman dan bebas berbagi. untuk Michael, kamu memang sahabat yang baik.

masih banyak teman-teman saya yang membantu menghadapi rasa ini, memang belum ada yang bisa membuat saya dapat merelakan rasa ini seutuhnya. saya tidak akan menyerah, walaupun saat ini saya sangat semakin lemah, tapi saya yakin teman-teman saya masih mau meminjamkan bahunya untuk berbagi.
terima kasih teman-teman.

Senin, 26 Oktober 2009

tersembunyi sejenak

Dalam perjalan ke cengkareng, sebuah wawancara radio menemani cara menyetir saya yang sangat terburu-buru karena sahabat saya sudah mendarat dan sedang menunggu bagasi. wawancara tentang menulis buku itu sedikit mengalihkan rasa keterpurukan yang saya alami beberapa waktu sebelumnya. sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan pikiran ini, namun keterbatasan kosakata membuat saya sering menundanya. penulis yang juga membuka kursus menulis itu seakan memang mempunyai bakat sebagai penulis, saya mungkin tidak. beberapa kali sang pewawancara menanyakan bagaimana bisa menjadi seorang penulis dan kapan sebaiknya mulai menulis. jawaban sang penulis cuma "menulislah sekarang", seperti semua orang sudah bisa langsung jadi penulis handal seperti dia. tapi pada sesi setelah beberapa pariwara, sang penulis menuturkan perjalanan dia hingga bisa diwawancara saat itu. saya akhirnya dapat mengerti mengapa Ia mengatakan "menulislah sekarang".

hah ponsel saya berteriak dengan nada yang saya yakin tak semua orang suka. sahabat saya menanayakan posisi saya dimana, dan menyatakan bahwa dia sudah menunggu di depan pintu kedatangan. uh mungkin hari itu memang sebuah cobaan, sebuah konser dangdut sebuah hajatan menyita hampir seluruh jalan. dengan nada malu dan prihatin saya kabarkan, saya mungkin sampai 20 menit lagi, mohon maaf. setelah beberapa menit mencoba menyeruak kerumunan pecinta dangdut akhirnya saya bisa memburu-burukan kecepatan mobil. ponsel bergetar lagi saat sudah dekat areal bandara, dia menegaskan bahwa saya tidak usah masuk parkir agar tidak repot. malam itu memang tidak begitu ramai, mungkin karena sudah waktu penerbangan terakhir. begitu sampai wilayah terminal, saya menerawang mencari sahabat yang minggu lalu mentraktir saya duren. tiba2 ada yang bergegas menuju arah mobil saya, dan setelah sedikit memperhatikan, ya itu sahabat saya datang bersama adiknya yang belum saya kenal.
mobil sempit yang saya bawa memang belum saya persiapkan untuk menjemput mereka, masih banyak barang2 Tria yang saya letakkan begitu saja di kursi belakang.

mereka begitu terburu-buru masuk kedalam mobil sepertinya mereka sudah terlalu lama menunggu dan kesal dengan penawaran dari petugas pemasaran taxi. untunglah barang-barang mereka tidak banyak, mobil kecil ini masih menyisakan sedikit ruang udara. tanpa peduli kelelahan dan haus yang saya rasakan, begitu pintu mobil ditutup rapat, saya langsung melepas rem dan kita melaju meninggalkan terminal. saat itu pukul 23.30 kami melalui jalur belakang yang saat itu tanpa penjagaan. sembari menceritakan perjalanannya, sahabat saya mengeluarkan bungkus rokoknya dan menanyakan apakah dia boleh merokok dalam mobil. saya tau yang punya mobil ini akan protes dengan bau rokok di mobilnya, tapi saya sudah berencana mencuci mobilnya esok. hei mau nggak? dia menawarkan saya sebatang - saya memang bisa menikmati rokok, tapi saya merokok hanya saat tertentu saja. boleh deh, tapi nanti dulu, saya mau bales sms ini dulu - sms dari Windy belum sempat terbalas, dia menanyakan hasil perjuangan hari ini.

saya pinggirkan mobil dan mulai memainkan ibu jari.

mana rokoknya? dengan mobil melaju saya menikmati kehangatan rokok diiringi obrolan seputar kehidupan di Jakarta. ternyata adik sahabat saya yang duduk di kursi belakang, baru pertama kali menginjak tanah beton Jakarta. sahabat saya mulai memberi petuah kepada adiknya yang intinya Jakarta itu hutan rimba, maka kamu harus hati-hati. ya hutan rimba. rimba yang saya arungi hampir 10 tahun dan yang telah membuat orang kampung ini tercabik ganasnya hidup disini.

menumpang pesawat kelas ekonomi memang harus siap fisik, sahabat saya mengajak untuk mampir sejenak mengisi perut mereka yang selama di udara hanya menghirup udara. kami sepakat merapat di restoran cepat saji yang buka 24 jam. saya sedang tidak ada nafsu makan walaupun perut membutuhkan. saya tidak mau mengecewakan sahabat kalau sampai saya sakit, jadi saya pesan roti lapis daging bersayur dan kentang asin goreng, lalu memaksanya masuk mulut. oh tidak terasa angka ganda tercipta, sudah pukul 24 di restoran 24 jam. kami segera menyudahi makan tengah malam, dan membersihkan jemari di keran air yang ada penadahnya.

hidupkan rokok dan mulai lagi melaju menembus malam.
suasana hati hari itu memang sedang pelik, batang rokok terbakar menyembunyikan perasaan tetang Tria di depan sahabat dan adiknya.

memasuki daerah perumahan terkenal di pinggir Jakarta, saya mulai bingung. sudah lama sekali saya tidak mengunjungi rumah sahabat saya itu. sahabat saya kecewa karena saya lupa jalan ke rumahnya. yang saya ingat hanya ada papan nama dokter di depan rumahnya.

karena sudah larut, saya menginap untuk kedua kalinya.
kamar yang nyaman dan sejuk melancarkan pejaman mata saya.

emmn suara tawa dan gurauan terdengar dari luar kamar. saya masih menahan bantal di kepala. suara itu terus saja mengganggu. akhirnya saya putuskan beranjak mencuci muka dan minum air segelas. mata ini masih mencoba menutup, tapi saya penasaran dengan suara riang di luar sana. saya keluar dan menghadapi kenyataan.

hari sudah siang, mata memicing tersentuh cahaya matahari.

suara riang masih itu bercengkrama di teras depan. dua bidadari kecil sedang bercanda. mereka keponakan sahabat saya.

hari itu saya masih merasa tersiksa dengan apa yang terjadi kemarin. satu bidadari mendekati saya seraya mengajak bermain. dia cepat sekali akrab dengan orang baru seperti saya. sampai akhirnya kedua bidadari lucu itu membuat saya kewalahan. sejenak senyum dan tawa mereka mendinginkan gejolak hari kemarin.

sungguh bidadari kecil yang menggemaskan. mereka masuk ke kamar tidur yang tadi sudah saya rapikan. bantal empuk terbang tak tentu arah. selimut terburai tak berbentuk. dua bidadari kecil belompatan di atas kasur.

saya duduk dan tersenyum memperhatikan mereka, terkadang kawatir dan bersiap menangkap jika mereka melompat terlalu berbahaya. seandainya saya bisa selalu mendengar tawa mereka, memandang senyum mereka, dan belajar berhitung bersama mereka. sejenak saya ingat hal yang di katakan Windy: "aku takut punya anak cewek", yang membuat saya berdoa semoga kedua bidadari ini diberikan jalan yang lebih baik.

ah saya harus pulang, saya belum rela berpisah dengan bidadari yang membuatku tersenyum dan tertawa hari itu. mereka sudah lelah berlompatan, bernyanyi, bersandiwara, berhintung, dan berlarian memakai sepatu ibunya. mungkin nanti saya akan mampir lagi, semoga saya tidak lupa arah menuju rumah itu.

Kamis, 15 Oktober 2009

that arrow still stuck inside

this mark will still there till I burned to the sky.
you taste my DNA
you suck my soul

here now not yesterday
still stuck inside

you its yu