sampai saat ini hari-hari masih terasa lumpuh
setiap langkah selalu membangkitkan gejolak
mata ini walau rabun rasanya harus dibutakan
telinga walau sudah ditutup masih harus ditulikan
hidung yang sinus ini masih ingat harum tubuhmu
aku tidak mau membatu
rasa ini aku coba menyangkalnya
aku melihat dunia dan mengarunginya
melawan ombak mencoba merelakan kau terbang
tapi membatu, terkutuk menantimu
ah saya memang laki-laki, saya mampu melakukan apa yang umumnya seorang laki-laki lakukan. saya bisa hidup bertahan di hutan rimba. tapi dalam hal rasa ini, saya memerlukan bantuan. saya masih bisa menangis dan terpuruk karena rasa ini.
pada tulisan kali ini saya ingin berterima kasih kepada bahu-bahu yang selama ini telah saya pinjam. bahu-bahu ini telah membantu saya masih bisa bernafas sampai saat ini, walaupun belum bisa menghilangkan rasa ini.
Yopi seorang dokter yang tadinya praktek di kampung, sekarang menjadi tukang rias wajah di salon kecantikan. sesekali Yopi masih menangani pasien umum yang menghubunginya secara pribadi, termasuk saya. saya mengenal dokter Yopi karena dia kakak teman kelompok belajar saya dulu. Yopi memutuskan untuk berpraktek di kampung saya, ketika saya pulang kampung, saya sering mampir ketempatnya.
saya sempat kaget saat melihat sebuah buku tebal tentang agama -- yang sama dengan yang ada di KTP saya ada -- di kamar Yopi. saat itu saya baru mengetahui kalau Yopi telah memutuskan untuk menganut agama baru. hal ini sangat jarang terjadi di negara saya ini. saya salut dengan keluarga Yopi yang membebaskan generasinya memilih keyakinan masing-masing. saya mungkin harus memberontak untuk bisa merubah agama, apalagi keluarga saya tidak seperti keluarga Yopi
setiap saya pulang kampung, saya sempatkan mampir atau sekedar bertemu dengan Yopi
selama ini dia menjadi tempat saya bercerita tentang hutan rimba yang menelan saya.
Yopi juga terkadang menceritakan petualangannya di pantai biru. ya Yopi memang teman saya berbagi ketika sedang pulang kampung. terima kasih Yopi.
Dilla kaget ketika saya tiba-tiba datang ke rumahnya. seorang yang yang suka tertawa cengengesan, Dilla kini lebih banyak dirumah merawat ibunya yang lumpuh.
dulu Dilla pernah menikmati hidup berfoya, kini dia harus menerima hidup yang cukup, terkadang kurang ketika waktunya membeli obat untuk ibunya. disaat-saat seperti ini, ketika rasa ini terasa menusuk, Dilla bisa menjadi teman berbagi dan selalu penuh tawa. saya sangat salut pada Dilla, dengan kondisi ekonomi yang kurang, dia masih bisa tertawa dan tersenyum merawat ibunya. saat ini saya sedang mencoba mencuri ilmunya, agar saya bisa tersenyum dan tertawa merelakan rasa ini. terima kasih Dilla
Rada memang bukan biduanita terkenal, tapi setidaknya dia sudah mencoba membuat video demo bersama kelompok musiknya. dulu saya sering ikut Rada latihan musik bersama kelompok musiknya yang juga teman-teman saya. saya memang suka musik, tapi mungkin selera saya berbeda dengan Rada. dulu Rada sering menyanyikan lagi dangdut, tapi sekarang dia mencoba ke jalur pop. Rada sering memberikan inspirasi kepada saya untuk mehadapi rasa ini. dan saya tidak menyangka Rada juga mempunyai kemelut yang hampir sama, namun tidak separah yang saya hadapi. dengan kesamaan itu, saya berani menceritakan rasa ini kepada Rada, dan dia merespon dengan beberapa inspirasi dan pengalaman. sampai sekarang, Rada selalu memberikan saya inspirasi setiap ada kesempatan. terima kasih Rada
saya sebenarnya jarang berkomunikasi dengan Ibu angkat saya. tapi suatu saat ketika rasa ini menyerang saya, dan saya tidak menemukan teman untuk berbagi, saya akhirnya menceritakan rasa ini padanya. Ibu angkat saya yang sampai saat ini memutuskan untuk hidup sendiri, beliau mengakui tidak pernah mengalami rasa seperti ini. beliau hanya memotivasi saya agar merelakan rasa itu. ya paling tidak beliau bersedia untuk berbagi, dan menyelamatkan saya hari itu. terima kasih Ibu
Windy orang yang membuat saya kaget saat pertama kali kenalan. dia bisa tahu dimana dan dengan siapa saya tinggal. saya sendiri tidak tahu siapa Windy ini, karena baru hari itu berkenalan. setelah beberapa kali saya tanya darimana dia tahu hal pribadi saya itu, akhirnya suatu cerita panjang terungkap.
windy adalah teman dekat paman saya dan Windy pernah diceritakan tentang keponakannya yang tinggal satu kota dengan Windy. ah saya tidak pernah menyangka akan bertemu teman seperti ini. setelah perkenalan itu, kami menjadi semakin akrab, dan saling berbagi cerita. saya banyak berbagi mengenai perjuangan saya untuk menghadapi rasa ini dan windy pun berbagi tentang dilemanya. Windy yang dulu hanya dimulai dengan perkenalan biasa, tak disangka jadi sedekat ini. terima kasih windy.
Aji seakan tahu yang saya butuhkan, dia mengajak saya berpetualang, bermeditasi mencari ketenangan dan mencoba merelakan rasa ini. dari menaiki gunung sampai menuruni lembah saya jalani, berbagai liku pemandangan saya nikmati terkadang bisa menyembunyikan rasa ini sesaat. bagaimanapun Aji telah membantu saya mencari cara merelakan rasa ini. terima kasih Ji.
Via dan Adi, dua sahabat yang mesra, kalau saja saya seorang penghulu, pasti saya kawinkan dua insan ini. Saya sering berbagi rasa ini dengan mereka melalui tulisan-tulisan singkat. komentar-komentar mereka seringkali membuat saya tertawa dan tersenyum. kami seringkali berdebat tak tentu arah dan tak berujung kadang menggantung, semoga tidak ada yang protes tentang itu. Via dan Adi kalian yang selalu menyemangati perjuangan dalam menghadapi rasa ini, terima kasih, nanti kita lanjutkan lagi pertarungan.
Michael sahabat yang dipisahkan oleh berlin, telah berjasa membantu saya menyentuh dunia. berkat Michael, saya merasa lebih nyaman dan bebas berbagi. untuk Michael, kamu memang sahabat yang baik.
masih banyak teman-teman saya yang membantu menghadapi rasa ini, memang belum ada yang bisa membuat saya dapat merelakan rasa ini seutuhnya. saya tidak akan menyerah, walaupun saat ini saya sangat semakin lemah, tapi saya yakin teman-teman saya masih mau meminjamkan bahunya untuk berbagi.
terima kasih teman-teman.
I never say that you are beautiful, because you are beautiful. I love you
Selasa, 27 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar