Dalam perjalan ke cengkareng, sebuah wawancara radio menemani cara menyetir saya yang sangat terburu-buru karena sahabat saya sudah mendarat dan sedang menunggu bagasi. wawancara tentang menulis buku itu sedikit mengalihkan rasa keterpurukan yang saya alami beberapa waktu sebelumnya. sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan pikiran ini, namun keterbatasan kosakata membuat saya sering menundanya. penulis yang juga membuka kursus menulis itu seakan memang mempunyai bakat sebagai penulis, saya mungkin tidak. beberapa kali sang pewawancara menanyakan bagaimana bisa menjadi seorang penulis dan kapan sebaiknya mulai menulis. jawaban sang penulis cuma "menulislah sekarang", seperti semua orang sudah bisa langsung jadi penulis handal seperti dia. tapi pada sesi setelah beberapa pariwara, sang penulis menuturkan perjalanan dia hingga bisa diwawancara saat itu. saya akhirnya dapat mengerti mengapa Ia mengatakan "menulislah sekarang".
hah ponsel saya berteriak dengan nada yang saya yakin tak semua orang suka. sahabat saya menanayakan posisi saya dimana, dan menyatakan bahwa dia sudah menunggu di depan pintu kedatangan. uh mungkin hari itu memang sebuah cobaan, sebuah konser dangdut sebuah hajatan menyita hampir seluruh jalan. dengan nada malu dan prihatin saya kabarkan, saya mungkin sampai 20 menit lagi, mohon maaf. setelah beberapa menit mencoba menyeruak kerumunan pecinta dangdut akhirnya saya bisa memburu-burukan kecepatan mobil. ponsel bergetar lagi saat sudah dekat areal bandara, dia menegaskan bahwa saya tidak usah masuk parkir agar tidak repot. malam itu memang tidak begitu ramai, mungkin karena sudah waktu penerbangan terakhir. begitu sampai wilayah terminal, saya menerawang mencari sahabat yang minggu lalu mentraktir saya duren. tiba2 ada yang bergegas menuju arah mobil saya, dan setelah sedikit memperhatikan, ya itu sahabat saya datang bersama adiknya yang belum saya kenal.
mobil sempit yang saya bawa memang belum saya persiapkan untuk menjemput mereka, masih banyak barang2 Tria yang saya letakkan begitu saja di kursi belakang.
mereka begitu terburu-buru masuk kedalam mobil sepertinya mereka sudah terlalu lama menunggu dan kesal dengan penawaran dari petugas pemasaran taxi. untunglah barang-barang mereka tidak banyak, mobil kecil ini masih menyisakan sedikit ruang udara. tanpa peduli kelelahan dan haus yang saya rasakan, begitu pintu mobil ditutup rapat, saya langsung melepas rem dan kita melaju meninggalkan terminal. saat itu pukul 23.30 kami melalui jalur belakang yang saat itu tanpa penjagaan. sembari menceritakan perjalanannya, sahabat saya mengeluarkan bungkus rokoknya dan menanyakan apakah dia boleh merokok dalam mobil. saya tau yang punya mobil ini akan protes dengan bau rokok di mobilnya, tapi saya sudah berencana mencuci mobilnya esok. hei mau nggak? dia menawarkan saya sebatang - saya memang bisa menikmati rokok, tapi saya merokok hanya saat tertentu saja. boleh deh, tapi nanti dulu, saya mau bales sms ini dulu - sms dari Windy belum sempat terbalas, dia menanyakan hasil perjuangan hari ini.
saya pinggirkan mobil dan mulai memainkan ibu jari.
mana rokoknya? dengan mobil melaju saya menikmati kehangatan rokok diiringi obrolan seputar kehidupan di Jakarta. ternyata adik sahabat saya yang duduk di kursi belakang, baru pertama kali menginjak tanah beton Jakarta. sahabat saya mulai memberi petuah kepada adiknya yang intinya Jakarta itu hutan rimba, maka kamu harus hati-hati. ya hutan rimba. rimba yang saya arungi hampir 10 tahun dan yang telah membuat orang kampung ini tercabik ganasnya hidup disini.
menumpang pesawat kelas ekonomi memang harus siap fisik, sahabat saya mengajak untuk mampir sejenak mengisi perut mereka yang selama di udara hanya menghirup udara. kami sepakat merapat di restoran cepat saji yang buka 24 jam. saya sedang tidak ada nafsu makan walaupun perut membutuhkan. saya tidak mau mengecewakan sahabat kalau sampai saya sakit, jadi saya pesan roti lapis daging bersayur dan kentang asin goreng, lalu memaksanya masuk mulut. oh tidak terasa angka ganda tercipta, sudah pukul 24 di restoran 24 jam. kami segera menyudahi makan tengah malam, dan membersihkan jemari di keran air yang ada penadahnya.
hidupkan rokok dan mulai lagi melaju menembus malam.
suasana hati hari itu memang sedang pelik, batang rokok terbakar menyembunyikan perasaan tetang Tria di depan sahabat dan adiknya.
memasuki daerah perumahan terkenal di pinggir Jakarta, saya mulai bingung. sudah lama sekali saya tidak mengunjungi rumah sahabat saya itu. sahabat saya kecewa karena saya lupa jalan ke rumahnya. yang saya ingat hanya ada papan nama dokter di depan rumahnya.
karena sudah larut, saya menginap untuk kedua kalinya.
kamar yang nyaman dan sejuk melancarkan pejaman mata saya.
emmn suara tawa dan gurauan terdengar dari luar kamar. saya masih menahan bantal di kepala. suara itu terus saja mengganggu. akhirnya saya putuskan beranjak mencuci muka dan minum air segelas. mata ini masih mencoba menutup, tapi saya penasaran dengan suara riang di luar sana. saya keluar dan menghadapi kenyataan.
hari sudah siang, mata memicing tersentuh cahaya matahari.
suara riang masih itu bercengkrama di teras depan. dua bidadari kecil sedang bercanda. mereka keponakan sahabat saya.
hari itu saya masih merasa tersiksa dengan apa yang terjadi kemarin. satu bidadari mendekati saya seraya mengajak bermain. dia cepat sekali akrab dengan orang baru seperti saya. sampai akhirnya kedua bidadari lucu itu membuat saya kewalahan. sejenak senyum dan tawa mereka mendinginkan gejolak hari kemarin.
sungguh bidadari kecil yang menggemaskan. mereka masuk ke kamar tidur yang tadi sudah saya rapikan. bantal empuk terbang tak tentu arah. selimut terburai tak berbentuk. dua bidadari kecil belompatan di atas kasur.
saya duduk dan tersenyum memperhatikan mereka, terkadang kawatir dan bersiap menangkap jika mereka melompat terlalu berbahaya. seandainya saya bisa selalu mendengar tawa mereka, memandang senyum mereka, dan belajar berhitung bersama mereka. sejenak saya ingat hal yang di katakan Windy: "aku takut punya anak cewek", yang membuat saya berdoa semoga kedua bidadari ini diberikan jalan yang lebih baik.
ah saya harus pulang, saya belum rela berpisah dengan bidadari yang membuatku tersenyum dan tertawa hari itu. mereka sudah lelah berlompatan, bernyanyi, bersandiwara, berhintung, dan berlarian memakai sepatu ibunya. mungkin nanti saya akan mampir lagi, semoga saya tidak lupa arah menuju rumah itu.
I never say that you are beautiful, because you are beautiful. I love you
Senin, 26 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar